Jurnal Salaka : Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia
https://salaka-fisib.unpak.ac.id/index.php/salaka
<p class="ListParagraph1CxSpFirst"><strong>Jurnal Salaka: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia</strong> adalah jurnal bahasa, sastra, dan budaya Indonesia yang memuat makalah, gagasan ilmiah, dan hasil penelitian bahasa, sastra, dan budaya dalam bentuk artikel ilmiah dari para peneliti, akademisi, seniman, budayawan, dan mahasiswa. Jurnal Salaka: Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia menerbitkan hasil penelitian dengan berbagai metode, baik kualitatif maupun kuantitatif, dan berbagai pendekatan dan teori bahasa, sastra, dan budaya dan berfokus pada kajian bahasa, sastra, dan budaya.</p> <p class="ListParagraph1CxSpMiddle">Jurnal Salaka: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia merupakan jurnal yang dikelola oleh Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) Universitas Pakuan. Jurnal ini mengundang para peneliti, akademisi, seniman, budayawan, dan mahasiswa untuk mengirim artikel ilmiah dari hasil penelitian, makalah, dan gagasan ilmiah dengan berbagai topik tentang bahasa, sastra, dan budaya Indonesia. Jurnal ini terbit dua kali dalam satu tahun dalam bentuk digital. Jurnal ini menjalin kerja sama dengan editor lokal berstatus guru besar universitas yang akan meninjau artikel sebelum dipublikasikan. Jurnal ini ditinjau (<em>review</em>) dengan metode <em>double blind</em> dan ditinjau oleh dua orang <em>reviewer</em>.</p> <p>Jurnal Salaka: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia telah terdaftar di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan telah memiliki <a href="http://u.lipi.go.id/1547707309">e-ISSN 2684-821X.</a></p>Universitas Pakuanen-USJurnal Salaka : Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia2684-821XREPRESENTASI ETOS KERJA ORANG SUNDA DALAM UNGKAPAN DAN FOLKLOR SUNDA
https://salaka-fisib.unpak.ac.id/index.php/salaka/article/view/9
<div class="page" title="Page 1"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <p>Etos kerja orang Sunda direpresentasikan dalam ungkapan atau kosakata bahasa Sunda yang digunakan sehari-hari. Selain itu, folklor Sunda juga merepresentasikan etos kerja orang Sunda, misalnya cerita si Kabayan. Tulisan ini menganalisis representasi etos kerja orang Sunda dalam ungkapan dan folklor Sunda. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ungkapan yang kerap dituturkan oleh orang Sunda menunjukkan bahwa ungkapan-ungkapan yang dituturkan orang Sunda menunjukkan ekspresi kemalasan, misalnya ungkapan atau kosakata kumaha isuk, hoream, wanci pecat sawed, dll. Folklor si Kabayan merepresentasikan pula etos orang Sunda. Cerita itu menampilkan kembali dua tipe orang Sunda: (1) orang yang bekerja keras dan (2) orang yang malas. Cerita bermakna bahwa orang Sunda seharusnya bersikap sewajarnya; orang Sunda tidak boleh memiliki sifat malas dan ambisi yang tinggi karena keduanya sama-sama merugikan diri sendiri maupun orang lain. Dari ungkapan dan folklor tersebut terlihat representasi identitas dan dinamika orang Sunda dalam hal etos kerja.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> etos kerja, orang Sunda, ungkapan, folklor, si Kabayan.</p> </div> </div> </div>Yuyus RustandiLanggeng Prima Anggradinata
Copyright (c) 2019
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2025-08-272025-08-2711BAHASA SEBAGAI PENDIDIKAN BUDAYA DAN KARAKTER BANGSA
https://salaka-fisib.unpak.ac.id/index.php/salaka/article/view/10
<div class="page" title="Page 1"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <p>Tulisan ini menggambarkan kaitan antara bahasa sebagai pendidikan budaya dan karakter bangsa. Pendidikan budaya berkaitan erat dengan karakter bangsa sebab sebagian nilai-nilai karakter terdapat dalam pendidikan budaya. Sekolah berperan penting sebagai wahana memperteguh nilai budaya dan karakter bangsa. Pendidikan budaya termasuk salah satu wahana untuk membentuk bahasa dan karakter siswa. Dalam pembelajaran bahasa perlu dioptimalkan baik strategi, metode, media, serta bahan ajar yang bermuatan nilai pendidikan dan kebajikan sehingga membentuk karakter peserta didik. Pendidikan bahasa sebagai budaya dan karakter bangsa bukan hanya tugas dan tanggung jawab guru bahasa, melainkan tanggung jawab semua guru bidang studi karena semua guru pasti menggunakan bahasa. Salah satu hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan pendidikan karakter siswa adalah dengan pembelajaran bahasa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunkan teknik studi pustaka untuk mengambil data dari berbagai sumber bacaan. Hasilnya, bahasa merupakan media penyampai ilmu pengetahuan dan informasi. Bahasa juga menjadi alat komunikasi antarindividu atau pun antarkelompok. Dalam praktik komunikasi yang terjadi, masyarakat menggunakan bahasa dalam “membangun kebudayaannya”. Oleh sebab itu, pembentukan karakter bangsa pun dapat dilakukan dengan sarana bahasa.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Bahasa, Pendidikan Budaya, Karakter Bangsa</p> </div> </div> </div>Triyanto TriyantoFuzi Afiza FauziyahMuhammad Tesar Hadi
Copyright (c) 2019
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2025-08-272025-08-2711TRANSFORMASI CERITA RAKYAT JAMARUN KE PERTUNJUKAN “CAHAYA MEMINTAS MALAM/THE LIGHT WITHIN A NIGHT”
https://salaka-fisib.unpak.ac.id/index.php/salaka/article/view/12
<div class="page" title="Page 1"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <p>Cerita rakyat Jamarun merupakan folklor lisan yang berasal dari Cianjur, Jawa Barat. Di tengah keberadaannya yang mulai terlupakan dalam ingatan masyarakat, cerita rakyat Jamarun diolah menjadi pertunjukan oleh tiga kelompok teater dari dua negara (Indonesia dan Australia): Mainteater Bandung, Teater Lakon, dan La Trobe University Student Theatre and Film. Cerita rakyat Jamarun dan pertunjukan Cahaya Memintas Malam/The Light Within A Night menjadi data dalam penelitian ini. Teori yang digunakan dalam penelitian, yaitu teori tentang transformasi yang dikemukakan oleh Riffaterre. Berdasarkan hasil pembahasan ditemukan adanya konversi dan ekspansi. Konversi tidak terjadi dalam tataran alur dan tokoh di pertunjukan CMM. Alur dan tokoh yang terdapat dalam CMM justru lebih kompleks daripada yang terdapat dalam cerita rakyat Jamarun. Cerita rakyat Jamarun menyandarkan pada penceritaan naratif, sedangkan pertunjukan CMM menggunakan rentetan dialog sebagai penyampai cerita. Cara ungkap naratif memungkinkan cerita tersampaikan lebih singkat, sedangkan cerita yang menyandarkan pada dialog membutuhkan uraian lebih luas. Ekspansi cerita rakyat Jamarun ke pertunjukan CMM tampak melalui pengembangan alur, tokoh, latar, dan wacana. Pengembangan tersebut ditandai dengan munculnya adegan-adegan baru yang terkait dengan wacana yang terkandung dalam cerita rakyat Jamarun dan yang berhubungan dengan dua budaya, Indonesia dan Australia. Selain itu, didapatkan pengetahuan bahwa perbedaan latar belakang budaya tidak dapat membatasi kerja kreatif. Perbedaan budaya justru mampu memotivasi untuk menemukan perspektif dan gaya ungkap yang tidak terduga. Pemilihan cerita rakyat sebagai poros utama cerita, mampu mengenal lebih jauh cara berpikir masyarakatnya.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> cerita rakyat jamarun, folklor, pertunjukan cahaya memintas malam, transformasi.</p> </div> </div> </div>Sahlan MujtabaDian Hartati
Copyright (c) 2019
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2025-08-272025-08-2711STRUKTUR DAN PERAN MITOS DALAM NOVEL CIUNG WANARA KARYA AJIP ROSIDI
https://salaka-fisib.unpak.ac.id/index.php/salaka/article/view/11
<div class="page" title="Page 1"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <p>Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana struktur mitos yang terdapat dalam novel Ciung Wanara karya Ajip Rosidi dan bagaimana peran mitos cerita Ciung Wanara di novel tersebut dalam perkembangan budaya manusia. Sebagaimana diketahui, novel Ciung Wanara karya Ajip Rosidi merupakan saduran bebas ke dalam bentuk prosa berbahasa Indonesia berdasarkan cerita Ciung Wanara edisi teks C.M. Pleyte (1910) yang ditulis dengan bahasa Sunda. Novel Ciung Wanara karya Ajip Rosidi menceritakan kisah tentang tokoh Ciung Wanara yang merebut kembali kedudukannya sebagai salah satu penerus kekuasaan kerajaan Galuh dan memberikan hukuman kepada Dewi Pangrenyep yang telah memfitnah Pohaci Naganingrum, ibu dari Ciung Wanara. Terjadi pertarungan antara Hariang Banga dan Ciung Wanara, karena Hariang Banga murka setelah mendengar Dewi Pangrenyep dimasukan ke dalam penjara. Pada akhirnya, Hariang Banga pun menghentikan pertarungan dan mengakui bahwa Ciung Wanara benar-benar keturunan Galuh. Hariang Banga memerintah kerajaan Galuh bagian timur, sedangkan Ciung Wanara memerintah wilayah kekuasaan bagian barat. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif analitis dengan pendekatan objektif (struktural). Hasil analisis struktur mitos menunjukkan bahwa novel Ciung Wanara karya Ajip Rosidi merupakan kondisi alamiah dari realitas hasrat manusia (individu) dalam memeroleh atau merebut kekuasaan, dan peran mitosnya sebagai Myth of freedom (mitos pembebasan) yang muncul dalam novel Ciung Wanara sebagai negasi atas mitos cerita Ciung Wanara.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> novel, Ciung Wanara, struktur mitos, peran mitos.</p> </div> </div> </div>Ferina Meliasanti
Copyright (c) 2019
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2025-08-272025-08-2711KONTROVERSI PUISI DARING DALAM POLITIK SIBER SASTRA
https://salaka-fisib.unpak.ac.id/index.php/salaka/article/view/13
<div class="page" title="Page 1"> <div class="layoutArea"> <div class="column"> <p>Munculnya teknologi daring yang memudahkan masyarakat dalam mengakses berbagai hal, membuat berbagai kalangan masyarakat memanfaatkannya untuk bermacam keperluan. Baik untuk mereproduksi pengetahuan, ataupun sekadar mengekspresikan dagelan terhadap suatu peristiwa. Budaya bersastra Indonesia menjadi salah satu dampak dari perubahan tersebut: produksi yang semula akrab dengan medium kertas pun secara berangsur berpindah haluan ke medium digital. Keinginan seseorang dalam memproduksi sastra menjadi lebih variatif. Akan tetapi, kontroversi dari kalangan kritikus sastra dan sastrawan senior membuat gaya baru dalam produksi sastra dipertanyakan, terutama masalah kualitas karya dan penulisnya. Kubu pencipta karya sastra pun terbelah dua, antara pro terhadap siber sastra dan pro terhadap keadiluhungan sastra konvensional. Melalui kajian kepustakaan, penulis menyorot fenomena tersebut dengan menganalisis beberapa karya puisi daring, yang dewasa ini banyak pula ditulis oleh sastrawan yang telah lama menulis karya sastra konvensional. Tujuannya untuk merelevansi dua karakter karya penyair tersebut.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> Siber sastra, demokrasi sastra, kontroversi sastrawan, poltik sastra</p> </div> </div> </div>Ardi Rai Gunawan
Copyright (c) 2019
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2025-08-272025-08-2711